20180806

Taufu Fa, Dessert Menyehatkan yang Digemari Orang Hong Kong

Taufu fa (Baru sadar kalau mangkoknya grupil)
Kebanyakan orang Hong Kong itu suka makanan yang berbahan dasar kedelai. Mereka percaa kalau kedelai memiliki banyak kandungan vitamin yang bagus untuk tubuh. Mereka juga percaya jka kedelai yang telah difermentasi dan berubah menjadi tahu, bisa membuat kulit halus dan melancarkan proses metabolisme.

Selain Hong Kong, orang Jepang dan Korea juga penyuka tahu. Konon satu diantara beberapa rahasia kenapa orang Jepang memiliki umur panjang adalah karena mereka gemar makan tahu. Lalu kalau di Korea sendiri, tahu dimakan untuk mengobati mabok, akibat minum soju-yang ini sering liat di drakor. *halah drakor maneh*

Makanan berbahan dasar kedelai ini di Hong Kong ada beberapa macamnya. Yang pertama sudah jamak kita ketahui, yakni tahu. Lalu ada susu kedelai, focuk dan taufu fa.

Kalau menyebut focuk dan taufu fa, saya ini suka bingung kalau harus menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Saya tidak benar-benar tahu apa artinya. Karena dalam bahasa Kantonis, taufu artinya tahu, dan fa adalah bunga/kembang. Jadi kalau diartikan ke dalam bahasa Ibu, artinya kembang tahu. Sedang kembang tahu yang ada di Indonesia bentuknya lembaran atau panjang-panjang kering, yang jika mau dimasak harus direndam terlebih dahulu, nah kalau jenis yang ini di Hong Kong bernama focuk.

Focuk atau kembang tahu versi orang Indonesia, kalau di Hong Kong biasa dimasak untuk campuran sayur, dan ada juga yang digunakan sebagi pengganti kulit lumpia, tapi ada juga yang berbentuk lembaran-lembaran yang biasa dibuat serupa kolak yang direbus sampai hancur pakai gula batu dicampuri telur kocokan.

Lalu kalau taufu fa atau kembang tahu versi Hong Kong, adalah dessert yang tampilannya mirip dengan tahu. Tapi lebih halus, lembut dan lembek. Warnanya juga putih, tapi menurut saya teksturnya lebih mirip sama jenang sum-sum. Dulu pas pertama kali lihat, saya mengira kalau itu adalah jenang sum-sum. Bahkan saya sempat menanyakan juruhnya pula. *katrok tenan*

Rasa taufu fa hampir sama seperti tahu. Hanya saja kalau tahu lebih murni rasa kedelai, kalau taufu fa ada sedikit rasa pedas-pedas jahe. Cara memakannya bisa langsung disendok lalu dimasukin ke mulut begitu saja. Tapi akan lebih enak lagi kalau ditambahi dengan gula.

Untuk gula ini ada dua macam gula yang digunakan. Satu adalah air gula putih dan satunya gula merah merahnya Hong Kong. Biasa kalau kita beli taufu fa untuk dibawa pulang, kita akan ditanyai mau dikasih gula apa. Tapi kalau taufu fa nya dimakan di tempat, kita bebas milih. Karena gulanya sudah disiapin oleh penjualnya. Mau pake apa dan seberapa terserah pembeli.

Pertama kali incip-incip taufu fa, mulut ndeso saya bisa langsung bersahabat. Enggak pakek penyesuaian. Mungkin karena bahannya kedelai, jadi langsung bisa diterima sama lidah. Malah setelah beberapa kali makan, sekarang jadi taufu fa lovers. Makanan kesukaan.

Taufu fa banyak dijual di beberapa tempat. Ada yang dijual di pasar, di restoran, dan toko yang memang hanya menjual taufu fa saja. Saya sendiri sudah pernah ngincipi yang dijual di beberapa tempat itu, dan menurut saya yang paling enak adalah yang dijual di toko yang hanya menjual taufu fa saja. Mungkin karena pemiliknya hanya fokus menjual satu macam produk, jadi mereka membuatnya benar-benar dengan resep yang sempurna.

Di Tai Wai, ada satu toko yang menjual taufu fa yang rasanya sangat enak. Rasa kedelai dan pedas rasa jahenya sangat terasa. Kolaburasi rasanya sangat pas. Bahkan air gula dan gula merahnya juga lebih enak dari tempat lain. Harganya seperti harga taufu fa di tempat lain, semangkok cuma HKD 11.

Di toko ini tidak hanya menjual taufu fa saja, tapi ada susu kedelai dan fuyi (biasanya dimasak sama kangkung). Tapi ya meski tidak hanya satu produk, semua yang dijual disana masih berbahan dasar kedelai. Pemilik tokonya wanita kisaran paruh baya. Kadang dibantu oleh seorang laki-laki dan wanita muda, yang sepertinya adalah anaknya.

Di toko ini kita bisa milih mau taufu fa yang dingin atau panas (Oiya, kalau kita beli taufu fa yang di pasar, biasanya hanya ada taufu fa yang panas saja ya soalnya di pasar nggak ada kulkas). Jadi kalau mau beli di toko ini, kita tinggal menyesuaikan sama cuaca saja. Dan, jika membeli taufu fa dibungkus, makannya jangan lebih dari dua jam. Nanti rasanya bakalan berubah. Jadi, kalau sampeyan benar- benar mau menikmati rasa taufu fa yang paling super dan sangat fresh, saya sarankan makan di tempat saja.

Buka jam 9-8 malam, toko taufu fa ini sangat mudah dicari. Sampeyan tinggal pergi saja ke MTR Tai Wai, lalu keluar melalui exit D. Sebelah kanan pintu exit itu sampeyan akan melihat pangkalan taksi dan minibus, dan sebelah kiri exit D adalah tangga ke atas. Nah, kalau mau nyari toko taufu fa ini, sampeyan cuma perlu jalan ke depan, lalu belok kanan. Toko taufu fa ada di deretan toko-toko ini. Plang-nya warna hijau. Tokonya diapit oleh toko sushi dan money exchange.(*)

Gula merah dan air gula putih


Plang hijau 


Tai Wai exit D

Sebelah kanan view dari luar exit D
*Yesi Armand Sha. Tai Wai. 20180806.

20180629

Lepet Ketan dalam Kenangan

photo net
Kemarin sore bapak tiba-tiba bilang ingin makan lepet. Makanya semalam Ranum merendam ketan.
   
Di luar hujan deras. Berisik, seperti suara televisi di ruang tengah. Ranum menghalau asap yang keluar dari tutup yang dibuka. Pelan-pelan ketan yang sudah dicampuri kelapa parut dan garam, dimasukkan ke dalam dandang yang bawahnya berisi air mendidih. Ketan akan dimasak setengah matang.
   
Beberapa kayu kering baru saja dimasukkan ke dalam perapian. Sebenarnya Ranum lebih suka merebus lepet menggunakan kompor. Karena selain praktis, bajunya juga aman dari asap yang baunya lumayan menyengat. Tapi kata bapak, rasa lepet lebih enak kalau direbus dengan api dari tungku.
   
‘’Rasanya biar seperti yang dibuat ibumu.’’
   
Lepet ketan buatan ibu yang dibungkus daun pisang. Dulu ibu membuatnya tak pernah memakai janur. Katanya kalau pakai janur, tak ada aroma daun yang terasa ketika lepet digigit.
   
Ranum dan bapak hanya suka lepet buatan ibu. Selain aroma daun yang membuat enak, rasanya juga lebih punel dan tanek. Mungkin karena ketannya dimasak dua kali, berbeda dengan orang-orang yang hanya merebusnya sekali matang.
   
‘’Apa kalian bertengkar?’’
   
Bapak tak biasa bertanya. Tapi melihat Ranum pulang sendiri dan sudah berdiam tiga hari di rumah, cukup menjelaskan kalau sedang terjadi sesuatu dengan rumah tangga anaknya.
   
‘’Pertengkaran dalam pernikahan itu hal yang lumrah. Harus ada satu yang mau mengalah.’’
   
Suara bapak cukup keras, terdengar sampai dapur. Ranum tak menjawab. Ia belum cerita, tapi ia tahu, Pandu pasti sudah menghubungi bapak untuk menanyakan apakah Ranum pulang, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. 
   
Ketan yang sudah dipindahkan ke dalam panci kini disiram dengan air mendidih. Dibiarkan sepuluh menit agar medok, setelahnya akan dibungkusi dengan daun pisang yang sudah di lap bersih lalu diikat dengan merang. Dulu Ranum sering membantu ibu membuat lepet. Maka meski ibu telah tiada, cara-cara itu masih diingatnya dengan baik.

**
   
Hujan sudah agak reda. Bapak menekan tombol remot bagian tengah yang ada tanda panah ke bawah, membuat volume televisi mengecil. Setelahnya, bapak berjalan ke dapur. Duduk di atas dingklik kayu kecil di depan tungku. Tangannya mendorong kayu yang keluar dari mulut tungku, membuat bara api semakin besar. Di atasnya, lepet yang sudah dibungkusi daun sedang direbus. 
   
‘’Pandu itu laki-laki baik. Kalau tidak baik, mana mungkin dulu bapak dan ibumu memilihnya.’’ 
   
Ranum tampak mengingat sesuatu. Dulu ada empat orang yang mendekati. Selain Pandu, Pras, Eko dan Rudi pernah datang ke rumah. Ranum meminta ibu dan bapak yang memilihkan. Pilihan orangtua pasti yang terbaik untuk anaknya, begitu pikir Ranum. Lalu nama itu jatuh pada laki-laki yang pendiam. Pandu, anak seorang pensiunan guru SD.
   
Sepertinya kata-kata bapak ada benarnya. Andai Ranum menjadi istri Pras, pasti sekarang ia sudah menjadi janda muda yang bingung menghidupi diri dan satu anaknya. Tiga tahun setelah menikah, Pras yang berbadan atletis itu terjerat cinta pada gadis kota yang cantik dan masih muda. Pras minggat dari rumah.
   
Atau jika menikah dengan Eko, tiap bulan pasti Ranum  bingung harus bersusah payah menghemat uang belanja. Cerita tentang gaji Eko yang besar namun memberi jatah bulanan yang kurang dari cukup pada istrinya itu sudah bukan menjadi rahasia lagi. Ranum lebih tak bisa membayangkan lagi andai dulu ia memilih Rudi. Bisa-bisa wajahnya akan terlihat lebih tua dari umurnya karena setiap hari harus menghadapi Rudi yang berwatak keras dan suka main tangan.
   
Dialah Pandu. Laki-laki pilihan ibu dan bapak yang tak banyak bicara. Kehidupannya rutin dengan hal-hal itu saja. Setelah pulang kerja, mandi, makan malam bersama, shalat berjama’ah dan ngaji semaan dengan Ranum. Setelah ritual itu semua, Pandu biasa menghabiskan waktunya di depan laptop. Katanya, banyak tugas kantor yang perlu dikerjakan.
   
‘’Jadi istri itu harus pandai membuat perasaan suaminya tenang, jangan sebaliknya.’’
   
Sepertinya bapak semangat sekali membahas Pandu. Laki-laki yang kaku dan dan kadang membuat Ranum kesal karena tak pandai berbasa-basi dan membuat kata-kata manis untuk menyenangkan hati istrinya. Pandu yang jujur akan mengatakan kalau Ranum mulai tampak gemuk, atau berkata terlalu asin, kurang manis dan terlalu pedas pada masakan Ranum jika memang kenyataannya seperti itu. Pandu yang tak romantis, yang pada dirinya tersimpan banyak kekurangan. 
   
Tapi Ranum juga tahu, ialah Pandu, laki-laki yang sabar menghadapi segala kerewelan tingah lakunya. Laki-laki yang tak mengeluh untuk mencuci piring kotor di dapur hanya karena Ranum tengah asyik menonton televisi. Laki-laki yang selalu khawatir dan begadang semalaman ketika Ranum sedang sakit.  Dialah Pandu, laki-laki bermata kopi yang hangat tatapan matanya hanya menyimpan cinta untuk Ranum seorang. Tiba-tiba Ranum merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
   
‘’Dulu ibumu pernah bilang, kalau sudah dibungkus daun, merebus lepetnya sampai matang saja. Jangan terlalu lama, karena kalau kematangan rasanya justru tidak enak. Semua ada porisnya, Num. Marah pun sama.’’ 
   
Kata-kata bapak membuat pikiran Ranum terbang mundur pada hari-hari sebelum ia kabur. Seminggu sebelum hari itu ia gampang sekali marah. Emosinya mudah meledak-ledak hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan Pandu. Ia benci kebiasaan Pandu yang suka menggantung handuk basah kecil untuk lap wajah di pinggir jendela, meninggalkan tusuk gigi yang telah di pakai di pinggir wastafel kamar mandi, atau mendengar suara kumur-kumur Pandu ketika menggosok gigi. Ranum tak menyukai itu semua, padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja.
   
Dan sebenarnya masalahnya sepele. Sore itu bayangan tentang soto ayam di dekat kantor Pandu tampak begitu menggoda. Ranum mengirimi pesan agar Pandu membelikannya ketika pulang. Tapi pekerjaan hari senin yang melelahkan ternyata membuat Pandu lupa. Melihat suaminya pulang dengan tangan kosong, amarah Ranum kembali meledak. Ia kesal, tak mau mendengarkan janji Pandu yang akan membelikannya besok. Semalaman Ranum diam dan esok paginya ia pulang ke rumah bapak tanpa pamit pada Pandu yang tengah berada di kantor.

**
   
Lepet sudah matang. Dandang sudah diangkat dari tungku. Satu per satu lepet dipindahkan ke dalam tampah yang terbuat dari anyaman bambu. Ranum meletakkan tiga bungkus lepet ke dalam piring beling berwarna putih tulang. Ia melepas ikatan merang, membuka bungkusnya, lalu mengangsurkan piring itu pada bapak.
   
‘’Mau sampai kapan kamu seperti ini? Pandu sudah lelah kerja untuk mencari nafkah. Tapi kamu masih seperti anak kecil begini,’’ ucap bapak seraya berjalan menuju sofa di depan televisi.
   
Kata-kata bapak membuat hati Ranum panas. Sejenak ia lalu sadar, mungkin selama ini memang ia sudah terlalu rewel atau bahkan egois.
   
Setelah semua lepet diangkat, Ranum gegas ke kamar untuk mencari ponselnya yang sudah dua hari dimatikan. Ada puluhan pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Pandu. Tak menunggu lama, Ranum ganti menekan tombol yang bisa menyambungkan dengan ponsel Pandu. Tapi tiga kali di telpon hanya suara cutomer service yang terdengar. Ranum ganti menelpon ke rumah dan hasilnya sama, tak ada yang mengangkat.
   
‘’Kenapa tak diangkat?’’ Ranum gelisah.
   
‘’Jangan panik, kamu harus tetap tenang dalam kondisi apapun.’’
   
Kali ini Ranum tak bisa menuruti kata-kata bapak. Bagaimana bisa tenang jika pikirannya sudah dibayangi dengan hal yang tidak-tidak. Genangan air dipelupuk matanya tak bisa lagi ditahan. Sesenggukan, air itu berjatuhan ketika ia membayangkan sebuah kehilangan. Ranum tiba-tiba merasa jika laki-laki pendiam itu adalah segalanya buatnya.
   
‘’Kamu mau kemana?’’
   
‘’Pulang. Ranum tak bisa hanya berdiam menunggu kabar.’’ Ranum memasukkan dompet, kunci rumah dan beberapa peralatan penting ke dalam tas. 
   
Hatinya dipenuhi oleh rasa marah pada diri sendiri dan berbagai macam penyesalan. Jika tak ada acara kabur, mungkin ia tak harus menanggung perasaan semacam itu. Tiba-tiba Ranum merasa perutnya mual, tubuhnya gemetaran dan lemas, sebuah kejadian yang ia rasakan sama seperti hari-hari seminggu sebelum ia kabur dari rumah. 
   
‘’Ini sudah sore dan hari akan gelap. Tunggulah, mungkin sebentar lagi Pandu akan menghubungi,’’ ucap bapak tenang. 
   
Pikiran bapak memang tenang seperti wajahnya saat ini, karena usai shalat Ashar tadi, Pandu sudah menghubungi bapak dan mengatakan jika sebentar lagi akan tiba.Bukannya menyambut, tapi bapak malah meminta Pandu istirahat dulu di mushola dan pulang ketika bapak sudah menghubunginya. Kata bapak, biar Ranum tahu bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang ia sayangi.
   
Dan kini kekhawatiran itu benar terjadi. Bapak sengaja membiarkan Ranum seperti itu, karena bapak berencana akan menghubungi Pandu setelah ia menandaskan lepet yang kini akan digigitnya. Lepet ketan berbungkus daun pisang yang rasanya tak pernah sama dengan lepet buatan ibu. Bapak tahu itu, karena sebenarnya bukan lepet yang dirindukan bapak, tapi ibu. Kini bapak menyeka matanya yang berair. (*)

*Yesi Armand Sha. Tai Wai, 29.06.2018

20180621

Kaum Moh Rekoso dan Mbak Pengatur Shaf

photo net
Tubuhnya masih lemah. Tapi mau bagaimana lagi, Romlah sudah kadung janji dengan mbak Siti untuk mengambil peralatan yang akan digunakan untuk belajar di minggu depan.

Setelah mengambil kereta jurusan Hung Hom dan keluar Melalui exit A2, Romlah lalu belok kanan dan kemudian menuruni beberapa anak tangga. Bersamaan dengan itu, sebuah bis tingkat nomer 102 berhenti di tempat pemberhentian paling awal. Romlah lari-lari kecil menyusul penumpang paling belakang yang ada di depannya. Begitu tubuhnya terangkut bis, Romlah merasa sangat beruntung. Andai menunggu terlalu lama dan bis tak kunjung datang, tubuhnya yang lemah itu bisa-bisa makin sempoyongan saja.

Beberapa menit perjalanan, sampailah di Causeway Bay. Romlah turun dan langsung disambut oleh terik matahari yang menyengat kulitnya. Panas bukan main.

Romlah lalu mengecek ponsel. Masih jam sebelas lebih, padahal mbak Siti baru bisa ditemui jam tiga-an. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia jika menunggu hanya dengan duduk-duduk saja di taman. Lagipula, di taman sangat panas. Belum lagi nanti Romlah harus shalat dhuhur dan makan siang. Maka bayangan tentang shalat dhuhur berjamaah sekaligus ngisis di masjid Wanchai langsung berkelebat di pikirannya.

Setelah naik tram dan berjalan beberapa menit, sampai juga Romlah di bawah masjid Wanchai. Sebenarnya, masjid itu tak tampak menonjol jika disebut masjid, sebab lebih tampak seperti apartemen bertingkat. Hanya saja, sedikit yang membedakan dengan bangunan di sekitarnya adalah warna hijau, desain melengkung dan tulisan arab di atas pintu masuk.

Usai mengambil wudhu, Romlah naik ke tempat shalat wanita. Hal pertama yang selanjutnya ia lakukan adalah mencari mukena. Jika berlibur ke daerah Koswebean memang Romlah jarang membawa mukena. Jika waktu sholat tiba, ia hanya perlu berjalan menuju mushola KJRI atau bank Mandiri. Disana disediakan tempat untuk sholat berikut peminjaman mukena. Atau jika ia sedang berada di lokasi yang dekat dengan Wanchai, Romlah hanya perlu pergi ke masjid Wanchai seperti yang ia lakukan hari ini.

Jarang membawa mukena atau malah tak pernah membawa, agaknya tidak hanya dilakukan oleh Romlah saja. Banyak sekali mbak-mbak lain yang jika waktu sholat tiba, mereka lebih rela mengantri panjang untuk meminjam mukena sekaligus sholat. Mukena kemudian seperti barang berharga yang ramai diperebutkan. Dan perebutan itu ternyata tak hanya terjadi di mushola KJRI atau bank Mandiri saja, di masjid Wanchai pun juga terjadi.

Setelah mencari ke dalam loker, memeriksa lemari, memeriksa gantungan dan tanya mbak-mbak pengurus, ternyata tak ada satupun mukena yang tersisa. Mata Romlah lalu iseng meneliti mbak-mbak yang memakai mukena masjid yang sedang duduk membentuk lingkaran yang sedang membaca shalawat dan istighfar. Jumlahnya sedikit. Lantas kemana perginya mukena-mukena masjid yang banyak itu?

Ada sedikit kecewa di dadanya. Tapi Romlah masih bisa menyuruh dirinya untuk tenang. Beruntung dari rumah tadi ia memakai pakaian dan jilbab yang lebar dan panjang. Maka, meski tanpa mukena, ia tetap bisa ikut shalat berjamaah dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya itu.

Urusan mukena sudah dilupakan. Romlah kemudian bergabung dengan mbak-mbak yang duduk melingkar. Hawa dingin AC dan puji-pujian kepada Allah dan kanjeng nabi, langsung membuat hati Romlah terasa adem, bahagia dan damai. Sebuah ketenangan hati yang tak ia temukan di tempat lain. Ya benar, memangnya dimana lagi bisa merasakan kelapangan hati jika bukan disuatu tempat yang mana orang-orangnya tulus memohon ampunan dan mendekat pada Sang Pencipta?

Empat puluh lima menit berlalu. Waktu dhuhur sudah hampir tiba. Tempat-tempat yang kosong di dekat Romlah kemudian menjadi penuh diduduki oleh mbak-mbak yang baru masuk. Semakin lama tempat itu semakin sesak. Bahkan kaki Romlah yang semula bisa diselonjorkan, kini hanya bisa dilipat.

Tempat yang semula tenang kemudian agak ramai. Mbak-mbak yang baru saja datang sibuk dengan diri mereka sendiri. Ada yang berbicara dengan temannya, ada yang menutuli ponselnya, dan ada yang memakai mukena yang dikeluarkan dari dalam tasnya.

Beberapa saat diam, Romlah lantas menyadari sesuatu. Mukena bermotif yang sangat Romlah kenali itu adalah mukena milik masjid.

“Lho mbak, ngambil mukena dimana? Mukenanya masih ada?” tanya Romlah penasaran.

“Hehe... Ini ngambilnya tadi. Sudah habis mukenanya.”

“Ah...Begitu rupanya.''Romlah baru tahu jika ternyata ada kuasa baru atas mukena masjid.

**
Suara adzan sudah mengalun dari speaker masjid. Lingkaran istighfar dan shalawatan sudah bubar. Mbak-mbak kemudian memencar, mencari tempat dan bersiap untuk shalat dhuhur.

Satu diantara mbak-mbak itu adalah Romlah. Ia sudah anteng dan mendapat tempat shalat yang nyaman. Tapi sembari menjawab adzan yang masih berkumandang, hati Romlah masih cemas tak karuan. Ia lantas berjalan memeriksa lemari, loker dan gantungan mukena. Berharap ada satu saja mukena yang tersisa. Romlah tak terbiasa shalat tanpa mukena. Rasanya tak nyaman saja.

‘’Mbak ada mukena nggak ya?’’ tanya Romlah pada seorang mbak yang berjilbab kotak-kota.

‘’Kalau di gantungan dan loker sudah habis. Coba periksa di dalam lemari,’ jawab mbak itu ramah.

‘’Sudah habis mbak.’’ Suara Romlah lesu.

‘’Emm... sebentar.’’ Mbak berjilbab kotak-kotak kemudian berjalan menuju tumpukan buku dan mengambil kantong kecil kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

‘’Ini punya saya pakai saja. Nanti kalau sudah selesai taruh saja disini,’ ucap mbak itu seraya menyerahkan mukena.

‘’Terimakasih banyak mbak. Eh, tapi mbak nggak sholat?’’

‘’Belum bersih,’’ jawab mbak itu dengan senyum masih menempel di wajahnya.

‘’Kalau begitu saya pakai ya mbak. Nanti saya kembalikan ke sini.’’ Romlah yang bahagia lalu kembali ke tempat semula.

‘’Dapat mukena?’’ tanya mbak berbadan kurus yang ada di sebelah kanan Romlah.

‘’Iya. Alhamdulillah, dipinjami sama mbak   itu,’’ jawab Romlah sembari menunjuk mbak berjilbab kotak-kotak yang sedang mengatur shaf dan memindai tas milik mbak-mbak yang ditaruh di samping atau di atas tempat sujud mereka.

“Mbak itu sudah mengatur shaf, masih mau memindai tas milik mbak-mbak itu ke pinggir. Ia mencarikan tempat untuk orang-orang agar bisa shalat dengan nyaman. Mbak itu pahalanya pasti banyak. Mungkin bahkan lebih banyak dari kita.” Mbak sebelah Romlah tiba-tiba bercelutuk.

Romlah mengangguk. Ia kemudian teringat ceramah seorang kiai ttentangseorang santri yang mendapat kucuran rahmat, ilmu dan berkah “lebih” dari santri lainnya lantaran santri itu khidmah(melayani) pada keluarga ndalem.

Agaknya mbak berjilbab kotak-kotak itu paham betul akan makna dari melayani. Tiba-tiba Romlah merasa kagum pada mbak itu dan juga malu pada dirinya sendiri. Romlah tak berani mendongakkan kepala.(*)

*Yesi Armand Sha. HK, 7 Syawal 1439 H.

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES