9/14/2020

Petrichor


Aku selalu ingin menangis ketika hujan turun, karena aroma tetes air yang dilepas langit itu selalu menyimpan rindu, cinta dan kenangan pada orang terkasih

Sekolahan sudah sepi, tapi ia masih berdiri di sana. Punggungnya disandarkan pada tembok perpustakaan, sedang jari-jarinya memilin ujung tali ransel. Sesekali ia mengangkat tangan kirinya sedikit ke atas, untuk melihat jam berapa.
Hujan masih menderas. Ia mulai berjalan ke kiri-kanan sambil menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai. Melihat apa yang tengah ia lakukan, tampak sekali kegelisahan menghuni sudut hatinya.

”Laluna.” Akhirnya kusapa dia. Karena selain kasihan, aku juga sudah bosan hanya memperhatikannya terlalu lama dari balik tembok perpustakaan.

Ia tak menjawab. Hanya memandangiku dengan tatapan menyelidik.

”Aku melihat tag name-mu.” Bohongku.

Dibanding dengan cewek-cewek di sekolah yang ingin mendapat perhatianku, Laluna memiliki paras di bawah mereka. Wajahnya biasa saja. Ia memiliki gigi yang tidak teratur di bagian atas tapi hal itu akan membuatnya terlihat manis ketika tersenyum. Sejauh pengamatanku, Laluna cewek yang pendiam, cuek dan tak terlihat memiliki teman dekat. Mungkin ia merasa tak butuh teman, karena selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendirian.

Aku baru benar-benar mengetahui tentang Laluna seminggu belakangan sejak aku mulai memikirkan syarat yang diajukan olehWanda, cewek adik satu tingkat yang kutaksir mati-matian sejak ia mendaftar masuk di sekolah. Di mata cowok-cowok seluruh sekolahan, Wanda adalah sosok gadis sempurna. Tak perlu kujelaskan bagaimana detailnya. Hanya saja siapapun yang melihatnya, pasti akan mengira bahwa ia adalah keturunan Jawa-Arab dan Korea. Tapi, asumsi itu salah besar karenaWanda asli berdarah Sunda.

Jika biasanya aku yang bosan menerima kiriman surat, coklat atau bunga dari cewek-cewek, dunia seakan terbalik ketika tiba giliranku yang terus menerus mencari perhatian Wanda. Demi dekat dengannya, aku rela membuang eksistensiku sebagai cowok favorit di sekolahan. Aku tak peduli dengan nilai rendah, kata gila dan bodoh yang diberikan oleh orang lain, karena pada akhirnya usaha yang sekian lama kulakuan membuahkan hasil. Wanda mulai melihatku, dan ia berkata akan menerima cintaku tapi dengan syarat aku harus menaklukan hati Laluna, memacari selama sebulan dan memutuskannya tiga hari sebelum ujian tengah semester.

”Hujannya deras sekali.” Aku menirukan mata Laluna yang memandang genangan air di depan kami.

Laluna bergeming. Beberapa menit tak ada reaksi, ia bersikap seolah tak ada makhluk hidup di sampingnya.

”Benar-benar cewek dingin.” Batinku.

”Iya, hampir lima belas menit seperti itu.” Suaranya terdengar lesu.

Salah! Bukan lima belas tapi hampir setengah jam, Laluna. Aku tahu betul di menit keberapa kamu berdiri di sini, karena aku telah mengikutimu sejak kau keluar dari kelas.

”Kamu nggak bawa payung?” tanyaku.

Ia diam.

”Pakai punyaku.” Kusodorkan payung yang sengaja kusiapkan.

Ia menggeleng. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

**
Aku menyesal kemarin telah meninggalkannya seorang diri, padahal saat itu kulihat carut belum hilang dari wajahnya. Kepalaku dipenuhi pikiran tentangnya karena tadi pagi ia tak terlihat melewati pintu gerbang sampai bel masuk berdering. Aku juga tak menemukannya ketika istirahat tadi diam-diam aku main ke kelasnya. Tiba-tiba aku khawatir dan takut sesuatu buruk terjadi padanya.

Brukk…

Sesosok tubuh mungil membuyarkan lamunanku. Ia mengambilkan kunci motor yang jatuh lalu menyerahkan padaku.

Mataku berubah cerlang begitu melihat sosok yang menabrak itu.”Laluna.”

”Maaf Kak. Aku nggak sengaja.”Sesalnya.

”Tak apa.”

”Syukurlah. Aku duluan ya.” Laluna gegas pergi tanpa menunggu persetujuanku.
Aku berusaha berjalan menyusul langkahnya yang cepat. Kulihat ada gelagat bersahabat pada sikapnya.

”Kupikir kamu hari ini tak masuk. Tadi pagi kamu berangkat jam berapa?” tanyaku.

”Seperti biasanya. Aku tak begitu ingat jam berapa.”

”Tapi kenapa aku tadi tak melihatmu masuk lewat pintu gerbang.”

Laluna menghentikan langkahnya. Ia menatapku lalu mengernyitkan dahi.

”Oh tidak. Mana mungkin aku menunggumu,” kataku seraya terbahak.

”Aku juga tak pernah kepikiran kakak menungguku.”

Aku tergeragap dan seketika aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia.

”Eee… Maksudku…’’ Aku kebingungan mencari kata yang tepat.

”Hujan akan turun. Kalau masih ada yang ingin kakak bicarakan, besok saja.”Laluna memotong kalimatku.

”Kamu nggak bawa payung lagi? Aku antar biar cepat sampai rumah.”

Ia menghentikan langkah. Mata jernihnya tajam menatapku. Aku menyesal mengucapkan kalimat itu karena aku takut ia tak suka ada orang yang tiba-tiba sok dekat dengannya.

”Kakak serius mau memberiku tumpangan?” tanyanya penuh harap.

”Apa ucapanku terdengar main-main?”

”Sekali ini, aku akan merepotkan kakak,” ujarnya dengan wajah yang menyiratkan terimakasih.

Kami pun membelokkan langkah menuju parkiran. Dan tak berapa lama motorku membawa tubuh kami keluar dari pagar sekolahan diikuti tatapan aneh cewek-cewek yang biasa mencari perhatianku.

Tak sampai dua puluh menit motorku berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau lumut. Begitu aku mematikan motor, Laluna gegas turun lalu berlari ke dalam rumah. Tak ada kata terimakasih atau ucapan mampir untuk sekedar minum teh hangat yang keluar dari mulutnya. Aku hampir meninggalkan rumah itu jika saja seorang wanita berusia senja yang punggungnya melengkung ke depan tak keluar dari rumah, menahanku dan menunjukkan bahwa gerimis telah mericis.

”Kamu temannya Laluna, kan? Terimakasih sudah mengantarkan pulang,” ucap wanita itu lemah. Ia menyerahkan segelas teh manis panas padaku yang duduk di kursi anyaman bambu depan rumah. Tak menunggu lama, cepat aku memindahkan gelas itu dari tangannya yang gemetaran karena usia.

”Kebetulan saya lewat sini,” Aku tak sedang berbohong karena jalan rumah kami ternyata searah, hanya saja aku harus belok memasuki perkampungan yang lumayan padat untuk sampai di rumah ini.

”Kemarin hujan turun lama sekali.”

Uhuk-uhuk…

”Ia pulang jelang malam.”

”Tapi kemarin sekolah bubaran seperti biasa.”Aku tak mengatakan jika kemarin sempat menyapa Laluna dan meninggalkannya sendirian di sekolah.

”Hujan deras tujuh tahun lalu ibu dan bapaknya meninggal karena tertabrak mobil saat mereka hendak menyeberang jalan,” tatapan wanita yang seluruh rambutnya telah memutih itu lurus ke depan seolah menembus hujan yang terus turun,”Hujan selalu membawa ingatannya pulang pada kejadian naas yang dilihat dengan mata kepalanya itu.”

**
Tiga bulan berlalu. Seminggu lagi kami akan menghadapi ujian tengah semester.

”Kenapa kak Bragi belum juga memacari lalu memutuskan Laluna?” Wanda menghentikan langkahku di jalan menuju parkiran.

”Kenapa aku harus melakukan itu?”

”Kak Bragi sudah lupa dengan kesepakatan kita?”

”Dengar ya Wanda, aku dekat dengan Laluna bukan karena mengikuti rencanamu.” Aku mengatakan yang sebenarnya karena sejak awal aku tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Wanda. Jika ia memang tulus mengharapkanku, kenapa harus ada kesepakatan. Bukankah cinta tak perlu syarat untuk menyatukan dua hati?

Hari dimana aku pertama kalinya menyapa Laluna itu, aku mulai memikirkan apa yang sebenarnya sedang direncanakan Wanda. Maka, tanpa sepengetahuan siapapun, aku diam-diam mencari informasi mengenai Wanda, tentang Wanda di kelas dan tentang hubungan Wanda dengan teman-temannya.

Pertanyaan yang kulontarkan tanpa menimbulkan kecurigaan pada teman-teman cewek Wanda akhirnya mendapat jawaban. Dari berbagai jawaban, aku bisa menyimpulkan bahwa Wanda benar menyukaiku dan Wanda sama sekali tak ada rasa padaku. Tapi dari kedua kesimpulan itu ada satu kesimpulan lagi yang lebih penting. Yakni Wanda ingin menggunakan aku untuk mengacaukan pikiran Laluna. Wanda ingin aku memacari Laluna lalu memutuskan jelang ujian tengah semester. Begitu konsentrasi Laluna pecah karena hatinya sedih sebab putus cinta, celah itu akan Wanda gunakan untuk mengalahkan teman sekelasnya itu.

Wanda termasuk siswa yang pandai. Tapi meski seberapa keras ia belajar dengan berbagai les tambahan, ia belum bisa mengungguli Laluna yang prestasinya selalu berada di posisi atas. Teman-teman di kelasnya juga heran, karena Laluna yang tak pernah mengikuti kursus di luar jam sekolah, bisa mengingat dengan baik pelajaran yang hanya sekali saja dipelajari. Laluna memiliki otak yang sangat encer.

”Jadi waktu itu semuanya bohong?”Suara Wanda naik beberapa oktaf.

”Bukan begitu, Nda. Hanya saja…,”

”Hanya saja kakak sekarang benar-benar menyukai Laluna?”

”Wanda, dunia ini akan lebih indah jika semuanya didasari oleh ketulusan dan kejujuran.”

”Kak Bragi nggak usah nasehatin Wanda. Ceramahi saja Laluna sana! ” Wanda pergi. Wajahnya merah.

Aku menarik napas panjang kemudian meneruskan langkahku yang sempat terhenti.

”Kak Bragi, buruan! Mau hujan,” teriak Laluna dari depan pintu parkiran.

Aku berlari-lari kecil ke arah adik kelasku itu,”Siap tuan putri.”

Laluna terkekeh, menunjukkan deretan giginya yang tidak teratur dan aku suka melihat pemandangan itu.

Musim sudah hendak kemarau, tapi hujan masih sering turun. Laluna masih tak menyukai aroma hujan atau aroma tanah kering yang basah. Laluna juga tak pernah membawa payung. Tapi ia tak lagi menunggu hujan reda sendirian, karena aku selalu menemaninya berdiri menyandarkan punggung di tembok perpustakaan atau jika tidak, motorku akan lebih cepat membawanya sampai rumah sebelum air langit itu menginjak bumi. (*)

* Cerpen ini pernah termuat di majalah Hong Kong Fairies. 

*Yesi Armand Sha

9/11/2020

Laki-laki itu Tengah Terlelap






Aku biasa mengenali kedatangannya dari bunyi derap sepatunya yang beradu dengan lantai. Biasa setelah menutup pintu, ia akan menautkan matanya dengan retinaku. Lalu menanyakan bagaimana kabarku, yang tak lupa disertai dengan seulas senyum hangat dari bibirnya yang kebiruan. Hari ini aku tak tahu ia tiba jam berapa. Aku tak mendengar suara sepatunya dan tak tahu kapan ia masuk. Tiba-tiba saja aku melihat laki-laki itu sudah terlelap di atas kursi separuh sofa berwarna abu-abu itu.

Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, sedang kedua kakinya terjulur ke lantai. Kepalanya menunduk dengan kedua bola mata yang mengatup sempurna. Dari gerak napasnya yang naik turun dengan tenang, tampak sekali ia tengah menikmati tidur dengan posisi duduk itu. Tak seperti aku yang jika tidur harus terbujur di atas kasur, ia bisa pulas di sembarang tempat.

Agaknya memang laki-laki itu diciptakan untuk mudah tidur. Aku ingat kala kami masih kanak-kanak, teman-teman jarang mau melibatkan ia ke dalam sebuah permainan yang mengharuskan untuk sembunyi.

”Aku ikut bermain,” pintanya pada teman-teman kala itu .

”Tidak! Kalau sembunyi kamu selalu ketiduran. Menjengkelkan sekali,” tolak salah satu teman kami.

”Kali ini aku tak akan tidur sembarangan.” Ia menempelkan jari kelingkingnya dengan ibu jari, sedang ketiga jari lainnya tegak lurus menghadap ke atas. Ia membuat janji.

Sebelum pendirian teman-teman goyah, laki-laki itu tak akan berhenti membujuk. Ia terus berkata-kata melafalkan janji-janjinya dengan suara berisik, yang pada akhirnya membuat teman-teman merasa risih dan laki-laki itu diterima untuk bergabung bermain.

Tiga kali putaran, permainan masih berjalan dengan baik. Tapi di putaran selanjutnya, janji yang diucapkan oleh laki-laki itu tinggal kata-kata belaka. Kami kembali dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali. Ya, lagi-lagi ia membuat aku dan teman-teman kelimpungan mencari tempat persembunyiannya.

Setelah lama dicari, salah seorang teman kami kadang memergokinya tengah berdiri dengan mata terpejam dan tubuhnya menempel di tembok dekat gang kecil yang menghubungkan rumahku dengan sumur belakang. Atau di lain waktu ia ditemukan sedang mendengkur di dekat tumpukan kayu kering yang akan dipakai sebagai bahan bakar untuk menggoreng krupuk. Pernah juga ia ketiduran di atas dahan pohon kopi di belakang rumahku. Laki-laki itu mudah sekali tidur. Mungkin itu imbas karena malamnya ia terjaga terlalu larut sebab setelah membungkusi krupuk di rumahku, ia harus belajar setelah sampai di rumahnya.

Laki-laki itu kadang memang menjengkelkan, tapi aku juga tak menampik kenyataan kalau aku sering diam-diam memperhatikannya ketika ia datang dengan sepeda onthel yang belnya selalu diputar berulang-ulang. Suaranya yang cempreng ketika menyapa bapak selalu membawa kakiku untuk cepat-cepat lari menuju jendela kaca berwarna hitam yang tak tembus pandang jika dilihat dari luar. Di pojokan jendela itu aku sesekali mengulum senyum sambil mengamati laki-laki itu yang dibantu bapak memasukkan krupuk-krupuk memenuhi dua keranjang belakang sepedanya.

”Ini catatannya. Hati-hati dan cepat pulang.” Pesan bapak.

”Enggeh pak.” Laki-laki itu menerima kertas dari bapak, mempelajarinya dengan cermat lalu memasukkan ke dalam tas slempang kecil berbahan kulit yang mulai mengelupas. Setelahnya, laki-laki itu gegas memutar sepeda onthel tuanya dan bersiap menyetorkan krupuk ke toko-toko sesuai dengan kertas yang berisi catatan tulisan tangan bapak itu.

**

Laki-laki itu masih terlelap. Beberapa kali kepalanya bergerak-gerak seakan hendak roboh, namun tidak jadi jatuh karena lekas tegak kembali. Melihatnya, aku jadi kasihan. Sepertinya ia mengantuk sekali atau barangkali sangat kelelahan.

Sebenarnya aku sudah sering menasehatinya agar lebih banyak istirahat di rumah. Berkali-kali pula kukatakan agar di usianya yang mulai senja itu, ia lebih fokus memperhatikan kesehatannya dan mengurangi pekerjaan di toko buku.

Agus dan Iwan sudah bekerja bertahun-tahun. Tabiat baik dan kejujurannya sudah tampak. Mereka amanah, percayakan saja urusan toko pada mereka. Kamu tak perlu pergi ke toko setiap hari,” kataku suatu hari.

”Aku pun memiliki pandangan sepertimu tentang mereka. Tapi masalahnya bukan percaya atau tidak. Hanya saja jika otak ini jika tak digunakan untuk bekerja sebagaimana mestinya, aku takut akan lebih cepat pikun sebelum waktunya. Bagaimana jika aku tak bisa mengenalimu lagi. Aku tak ingin hal itu terjadi padaku,” kilahnya menggodaku.

”Kamu kan bisa menghabiskan waktu dengan merawat taman di depan rumah, mencabuti rumputnya, dan memangkas tanaman yang keluar pagar.”

”Semua itu tak menyenangkan jika dilakukan sendirian. Lagipula belakangan toko ramai. Tenagaku cukup dibutuhkan disana.”

Laki-laki itu memang seorang pekerja keras. Bahkan ia sudah mandiri sejak kecil. Ketika anak-anak seusianya sibuk menadahkan tangan pada orangtuanya untuk meminta uang jajan, ia telah memiliki penghasilan sendiri. Upah membungkusi dan mengantar kerupuk yang diperoleh dari bapak cukup untuk memenuhi sakunya. Bahkan setelah dikumpulkan berbulan-bulan, bisa membantu ibunya untuk membayar bulanan sekolahnya sendiri.

Semua tahu jika laki-laki itu sudah lebih dewasa dari usianya. Ia menjaga ibu dan adik semata wayangnya dengan baik. Ia tak pernah membuat khawatir ibunya dan tak pernah membuat marah perempuan berbadan ringkih itu. Ia berubah menjadi laki-laki yang lebih tanggung jawab sejak bapaknya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun.

Laki-laki itu tak mau menyusahkan ibunya. Ia selalu berusaha menghasilkan uang sendiri. Sejauh yang kutahu, selama kuliah ia jarang menggunakan uang kiriman dari ibunya. Semester satu sampai tiga ia biayai kuliahnya dari upah kerja paruh waktu. Di semester lanjutan sampai akhir, ia menghasilkan uang dari berdagang. Ia berjualan apa saja. Kadang kulakan baju, celana atau sepatu untuk dijual pada teman kost atau teman kampusnya.

Aku mengetahui dengan baik perjuangan kerasnya itu, karena kebetulan kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal di tempat kost yang tak terlalu jauh. Ah bukan. Sebenarnya itu bukan kebetulan. Jika mengingat hal itu aku selalu merasa berhutang budi padanya.

”Ayolah tolong aku sekali ini. Hanya kamu yang bisa membantuku,” pintaku kala itu dengan wajah penuh pengharapan.

”Kenapa harus aku? Teman-teman lain juga ada yang kuliah di kota,” jawab laki-laki itu.

”Kau tahu sendiri kan, bapak sangat percaya padamu. Pasti bapak akan mengijinkanku kuliah di kota jika tahu bahwa kamu juga kuliah di kampus yang sama,”kataku berusaha menjelaskan tentang kekhawatiran bapak untuk melepasku hidup di kota.

Laki-laki itu tak memberi kepastian bahwa ia akan membantuku untuk membujuk bapak. Hanya saja dua hari setelahnya, bapak memberi kabar yang membuatku sangat bahagia. Aku diijinkan untuk kuliah di kampus yang kupilih. Agaknya laki-laki itu sudah berbicara dengan bapak.

**

Suara beberapa anak kecil yang berbicara di luar terdengar cukup berisik. Andai tanganku tak dipasangi selang-selang infus, pasti aku akan keluar lalu meminta mereka untuk memelankan suaranya agar tak mengganggu tidur laki-laki itu. Aku ingin melihatnya tidur lebih lama lagi.

”Alisa, kamu sudah bangun”’

Aku tergeragap mendengar suaranya yang tiba-tiba.

Laki-laki itu mendekat, ”Aku tadi tiba ketika kamu sedang tidur. Makanya kuputuskan menunggu sampai kamu bangun. Tapi akhirnya aku malah ketiduran.”

”Bagaimana keadaanmu hari ini?” tambahnya.

Ia tersenyum lalu menautkan retinanya dengan mataku. Aku menemukan tatapan dari pemilik mata kopi itu masih sama seperti tatapan puluhan tahun silam.

Puluhan tahun silam itu…

”Aku tak tahu seperti apa laki-laki itu. Aku tak bisa membayangkan sebuah kehidupan dengan seorang yang tak kukenal. Aku ingin menolak perjodohan itu tapi aku juga tak ingin melukai hati bapak.” Aku tergugu menceritakan perihal perjodohan antara aku dengan anak laki-laki pelanggan krupuk bapak.

”Lagi pula hatiku sudah menyimpan sebuah nama,” tambahku.

Laki-laki yang diam dengan wajah tak bisa kubaca itu menarik kursinya berhadapan denganku. Wajahnya sangat serius. ”Alisa, jawab sejujurnya apa yang kukatakan. Apakah nama yang kau simpan itu namaku?

Aku tak berani menjawab. Hanya mampu menutupkan kedua tangan ke wajahku yang penuh air.

”Sebelum semuanya terlambat, aku juga ingin memberitahumu satu hal. Aku mencintaimu, Alisa. Aku mencintaimu sejak saat itu. Sejak kamu mengintip aku melalui kaca depan rumahmu.”

Laki-laki itu membimbing tanganku turun perlahan-lahan hingga membuat tangisku pecah karena kaget dan malu. Setelahnya, aku pun menemukan sebuah ketulusan dan kehangatan di kedalaman matanya.

”Alisa, kamu melamun?” Kedua kalinya, suara laki-laki itu mengagetkanku.

”Tidak. Bukan,” kataku cepat. Aku berbohong.

”Dokter bilang seminggu lagi kamu boleh pulang. Aku sudah merindukan kopi buatanmu.” Sebuah senyum terkulum dari bibirnya yang membawa aroma kebahagiaan.

”Syukurlah. Aku juga sudah bosan terbaring di kamar ini berminggu-minggu,” jawabku tak kalah bahagianya.

”Lekas sehat ya, Sayang. Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu. Aku berjanji akan lebih banyak menemanimu di rumah. Membantumu membuat cake atau merawat tanaman di depan rumah.” Laki-laki itu menggenggam tanganku. Memilin-milin cincin pernikahan kami yang melingkar di jari manisku. Hingga kemudian punggung tanganku terasa hangat oleh sebuah kecupan.

”Aku mencintaimu,” bisiknya. (*)


*Cerpen sederhana ini pernah tersiar di taboid ApakabarPlus Hong Kong.

9/06/2020

Sajadah Hijau Bapak


Sejak satu jam lalu hingga saat ini, Ahmad masih membantu mencari sajadah kesayangan bapak. Semua tempat sudah ia cari. Lemari, tempat cuci baju, jemuran belakang, bahkan kolong bawah ranjang tak ketinggalan diperiksa, tapi sajadah hijau itu belum juga mau menampakkan diri. Air muka bapak mulai keruh. Baju-baju yang sudah mulai berantakan kembali diperiksanya satu persatu.

Sebenarnya jika diamati tak ada yang istimewa darinya. Seperti sajadah lain, sajadah itu terbuat dari beludru berhias gambar masjid di tempat sujud. Warna hijau tuanya sudah pudar. Bahkan jahitan pinggir keempat sisinya sudah mulai lepas.

”Bapak nanti kan bisa memakai sajadah lainnya?” ucap Ahmad mencoba memberi saran pada bapak.

”Iya, Le. Tapi sayang kalau pakai sajadah lain. Jika kita beribadah memakai barang pemberian orang lain, maka orang yang memberi itu, Insya Allah juga akan mendapat pahala kebaikan karenanya.”

Sejak memori otaknya bisa mengingat dengan jelas, belum pernah sekalipun Ahmad melihat bapak sholat memakai sajadah lain. Ia sering heran kenapa bapak tidak mau ganti dengan sajadah bermotif serupa dan berwarna sama tapi lebih bagus dari sajadah kesayangannya itu. Kini keheranan Ahmad terjawab, dengan memakai sajadah itu beribadah, pasti bapak berharap di alam kuburnya sana, mbah Ripin juga mendapat pahala kebaikan seperti yang baru saja bapak katakan.

”Sajadah hijau itu dulu pemberian dari Almarhum mbah Ripin.” Cerita bapak suatu ketika saat memperkenalkan perihal sajadah kesayangannya itu.

Ahmad mengenali sosok mbah Ripin dengan melihat foto yang dipajang di bufet ruang tamu rumah mereka. Foto hitam putih yang tampak lawas dalam pigura berukuran kecil itu, mbah Ripin mengenakan baju koko dan peci berwarna hitam. Selembar sorban bermotif kotak-kotak menggantung di bahunya. Di dagu mbah Ripin ditumbuhi beberapa jambang tipis. Dan terlihat jelas, senyum lembut yang terbingkai dari wajah ramah mbah Ripin memancarkan ketenangan dan aura kewibawaan.

”Mbah Ripin dulu seorang guru ngaji.” Jelas bapak dengan wajah sumringah. Itu adalah ekspresi yang selalu Ahmad lihat pada raut muka bapak ketika menceritakan tentang sosok mbah Ripin. Dari kata-kata yang dituturkan bapak, terlihat jelas bahwa bapak sangat mengagumi dan menghormati mbah Ripin.

Masih menurut cerita bapak, dulu mbah Ripin adalah satu-satunya orang yang mengajari mengaji ketika banyak orang di desa mereka belum bisa membaca huruf hijaiyah. Mbah Ripin mengajari anak-anak kecil sepulangnya dari berladang atau dari sawah.

Tak hanya anak sekolahan dasar saja yang belajar kepada mbah Ripin, tapi muridnya juga dari kalangan pelajar di tingkat SMP dan beberapa yang sudah sekolah STM. Bahkan Saking banyaknya anak, kadang waktu ngaji antara jam empat sampai jelang waktu Maghrib itu tak cukup jika mbah Ripin harus mengajar sendirian. Maka agar semua murid selesai mengaji sebelum masuk waktu adzan Maghrib, mbah Ripin mengutus beberapa anak yang sudah besar dan benar bacaan hijaiyahnya untuk mengajari anak yang baru belajar di tahap dasar.

”Meski harus bergantian saat membaca Iqro’ dan Qur’an-nya, tapi kami belajar dengan semangat. Kami biasa adu cepat agar bisa datang paling awal ke langgar, karena siapa yang datang paling dulu artinya ia yang berkuasa atas Iqro’ atau Qur’an di langgar. Kau tahu arti dari berkuasa, kan? Maksudnya adalah berkesempatan untuk ngaji di urutan paling depan,” tambah bapak lagi dengan wajah yang berseri-seri.

”Kami berangkat cepat bukan hanya karena mengejar urutan ngaji paling awal saja, tapi kami juga mencari kesempatan agar bisa membersihkan dan menata tempat yang biasa digunakan mbah Ripin untuk duduk, lalu menimba air di sumur untuk wudhunya mbah Ripin. Kami selalu berlomba-lomba paling cepat menyiapkan apa-apa yang beliau perlukan. Bahkan saking hafalnya kebiasaan mbah Ripin, kami sudah lebih dulu bergerak sebelum beliau menyuruh.” Ada binar yang terpancar dari wajah bapak. Pasti bapak sedang mengingat kenangan indah bersama kawan-kawannya waktu mengaji bersama mbah Ripin.

”Bagi kami, mbah Ripin seperti orangtua yang harus kami senangkan dan hormati. Kami selalu berlomba untuk merebut hati dan mendapat perhatiannya. Mengingat saat itu, kadang aku merasa kasihan jika membandingkannya dengan anak di jaman sekarang.” Binar di wajah bapak seketika berubah menjadi nanar. Mungkin bapak sedang memikirkan zaman yang sangat bertolak belakang dengan masa kecilnya.

Ya, sebuah pemandangan getir memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di desa mereka. Dimana anak kecil kini sedikit sekali yang mau belajar ngaji. Orangtua semakin menekan anaknya untuk unggul di bidang akademis. Mereka menyuruh anak-anaknya les ini dan itu, berangkat pagi dan pulang jelang malam, namun mereka tak menyuruh anaknya untuk mengaji dan belajar agama. Ilmu di bidang akademis memang perlu, tapi bagaimanapun juga belajar agama itu sangat penting, sebab dengan belajar agama, manusia tahu bagaimana tatakrama berhubungan dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.

Jika di satu keluarga ada orangtua yang tak memberi ruang pada anaknya untuk bernafas, maka di atap lain juga ada orangtua yang malah memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk anak mereka. Orangtuanya sibuk bekerja sedang anaknya dilimpahi uang yang banyak. Orangtua tak pelit menggelontorkan dana jutaan rupiah ntuk membelikan gadget anaknya yang masih mengenyam bangku di sekolah dasar. Mereka tidak peduli jika hari-hari anaknya hanya habis dengan bermain gadget, bahkan mereka seolah berlomba-lomba agar bisa memiliki gedget yang keluaran terbaru.

Sungguh sebuah ketimpangan yang sedang melanda desa mereka. Kini sedikit sekali anak kecil dan anak muda yang tampak meramaiakan masjid dengan suara lengkingan mereka untuk mengeja huruf hijaiyah. Yang ada kini masjid dan langgar yang dibangun megah itu, setiap harinya hanya dihuni oleh beberapa orang yang sudah lanjut usia dengan wajah yang sama.

**
Suara merdu rekaman Syekh Misyari Rasyid yang membaca murota’al Surat Ar-Rahman telah mengalun dari speaker masjid. Dalam waktu lima belas menit yang akan datang, toa itu pasti akan mengumandangkan adzan maghrib. Hati Ahmad resah tak karuan, karena sungguh ia sudah sangat ingin berangkat ke masjid. Kata bapak yang menirukan ucapan mbah Ripin, seseorang yang menunggu datangnya waktu sholat dan dalam keadaan berwudhu, ia akan didoakan dan dimohonkan ampun oleh malaikat. Ahmad sangat menyayangkan jika harus kehilangan kesempatan berharga itu.

”Ah, ini semua gara-gara sajadah kesayangan bapak itu.” Gerutu Ahmad dalam hati. Ia merasa hilangnya sajadah laksana petaka baginya.

Sajadah kesayangan bapak itu selama ini ibu-lah yang mengurus dan merawatnya. Sebulan sekali sajadah hijau tua itu dicuci, ibu yang menjemur dan ibu pula yang melipat kemudian menaruhnya di kotak yang disiapkan khusus untuk menyimpan peralatan sholat. Ahmad dan bapak hars mencarinya sendiri karena siang tadi ibu dijemput Pakdhe pulang ke kampung halamannya, sebab kesehatan mbah putri memburuk. Ibu akan menginap di sana beberapa malam, sedang Ahmad dan bapak akan menyusulnya Sabtu lusa sepulang Ahmad dari sekolah.

Mengingat ibu, Ahmad jadi kepikiran untuk menelponnya. Ahmad sedikit merutuki keterlambatan itu, kenapa tidak dari tadi menanyakan hal itu pada ibu, barangkali ibu masih ingat sajadah itu ditaruh dimana. Ah, dalam keadaan panik, memang seringkali pikiran buntu dan tak bisa berpikir jernih.

Dari kamar bapak, Ahmad berjalan cepat-cepat menuju ruang tamu, dan di sana ia melihat bapak baru saja meletakkan gagang telpon.

”Ayo cepat berangkat, Le.” Ahmad melihat carut di wajah bapak sudah terang.

”Ke mana, Pak?”

”Ke masjid. Memangnya mau kemana lagi?”

”Sajadahnya sudah ketemu ?”

”Sajadahnya terbawa ibumu, tadi dia tak sadar memasukkan ke dalam tas bajunya.”

”Jadi bapak baru saja telponan sama ibu?”

Bapak mengangguk lalu menarik sajadah hijau berwarna hijau muda diantara tumpukan baju tatanannya yang sudah mulai berantakan. Ahmad menirukan dengan menarik sajadah lainnya. Mereka segera berangkat ke masjid. Ada sebentuk kebahagiaan menyeruak di dalam hati Ahmad. Kata bapak yang masih menirukan perkataan kakek, laki-laki sholat jama’ah di masjid lebih utama dari sholat di rumah. (*)

*Cerpen sederhana ini termuat di tabloid ApakabarPlus
Yesi Armand Sha
< > Home
Powered by Blogger.
yesiarmand © . All Right Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.