7/09/2020

Sanpouh


foto pinterest

Hari ini akhir pekan memasuki bulan puncak musim dingin. Hujan yang sedari pagi mericis, membuat hari yang sudah dingin ini menjadi berkali-kali lipat dinginnya. Tombol pemanas ruangan kupasang di angka paling tinggi. Beberapa jaket tebal, topi dan syal berbulu sudah mencoba menghangatkan tubuhku, tapi suhu minus hari ini membuatku masih saja dilanda gigil. Akhirnya kuputuskan mengeluarkan sepotong jaket lagi dari gantungan lemari lalu memakainya. Ketika mematut diri di depan cermin, kulihat diriku berdiri disana dalam bentuk manusia kutub.
   
Telpon kabel di sebelah radio tua berdering. Selain beng on cung, jai dan sanpouh, tak pernah sekalipun kuterima panggilan masuk dari orang lain. Ah sebentar kuberitahu dulu, aku memiliki tiga jai yang sudah menikah dan juga tinggal di Hong Kong, lalu jai dan sanpouh yang kumaksud disini adalah anak lelakiku yang pertama dan istrinya.
   
‘’Mama kamu sudah makan? Hari ini dingin sekali, kamu memakai baju yang hangat, kan?’’ terdengar suara menantuku di ujung sana begitu telpon kutempelkan di telinga dan kusapa dengan

‘’Halo’’.
   
‘’Aku sudah makan… dan tubuhku juga hangat,’’ jawabku cepat agar menantuku juga cepat lega setelah mendengar bagaimana keadaanku.
   
‘’Oh ya, nanti aku mampir, Ma. Aku beli nasi, mama tidak usah masak ya?” tanyanya tapi lebih terdengar seperti kalimat perintah.
   
Ditengah pekerjaannya yang sibuk sebagai manager hotel, seminggu sekali menantuku ini selalu mampir ke rumah. Seperti hari ini, ia mengabariku dulu lalu bilang akan membeli makanan dari luar lalu kami makan malam bersama.
   
Aku yang tinggal sendiri dan sering merasa betapa duniaku begitu sunyi, senang saja bila ada orang yang berkenan menemaniku makan dan bercengkerama di meja makan. Tapi ketika membayangkan menantuku menempuh perjalanan cukup jauh dari kantornya ke rumahku, dan setelah itu ia harus naik bis satu jam lagi untuk kembali ke rumahnya, aku merasa tak benar-benar bahagia hendak menerima kedatangannya. Tak tega. Aku sangat kasihan melihatnya.
   
‘’Iya.’’ Pada akhirnya kalimat itu yang bisa kuucapkan sebab larangan untuk datang yang berkali-kali kukatakan tak pernah ada gunanya.  Jika kali ini aku melarangnya lagi, pasti juga tak akan ia dengarkan.
   
‘’Sekarang di luar hujan, Ma. Kamu jangan kemana-mana ya, di rumah saja. Takut nanti masuk angin dan flu.’’
   
‘’Iya,’’ jawabku pendek. Lagian dalam keadaan seperti ini aku mau pergi kemana? Tak ada tempat yang hangat dan nyaman selain di rumahku sendiri, batinku.
   
‘’Jam enam tiga puluh nanti aku sudah di sana. Sampai ketemu nanti ya, Ma.’’
   
‘’Iya. Pay…pay…’’ jawabku kemudian sambil membalas sapaan terakhirnya.
   
Gagang telpon berwarna putih tulang itu kukembalikan ke tempatnya. Mataku lalu melirik jam dinding yang berada tepat di atas kepala. Jam dua lewat sepuluh.
   
Beberapa jam setelah itu, aku dikejutkan oleh suara bel yang menggema di rumah mungil tanpa kamar ini. Ya, kau tak salah baca. Rumahku ini hanya memiliki tiga ruangan yang terdiri dari toilet, dapur dan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang makan, tempat tidur dan berbagai hal yang biasa dilakukan orang lain selain di dua tempat yang sebelumnya kukatakan.
   
Ketika kubuka pintu kayu, menantuku tampak berdiri di balik pintu besi dengan tangan penuh dengan beberapa kantong plastik.
   
‘’Mama…’’ sapanya.
 
‘’Sudah datang?’’ tanyaku seraya membuka pintu besi.
   
‘’Iya.’’ Menantuku masuk. Plastik di tangan kirinya dipindahkan semua ke tangan tangan. Lalu tangannya yang bebas itu memegangi lenganku, mengisyaratkan supaya aku mundur beberapa langkah agar ia bisa menutup dan mengunci pintu.
   
‘’Aku membeli nasi tim ayam dan jamur. Ada sup pepaya juga,’’ Menantuku meletakkan semua plastik di atas meja. ‘’Aku juga beli buah untuk mama. Buahnya dimasukkan kulkas apa tidak?’’ tanyanya kemudian.
   
‘’Tidak usah. Sekarang sudah dingin , nanti malah tak bisa dimakan saking dinginnya.’’
   
‘’Kalau begitu aku taruh di sini saja.’’ Menantuku mengeluarkan apel, jeruk dan pisang dari dalam plastik lalu menaruhnya di atas keranjang buah.
   
‘’Aku juga beli tanko dan pengkon.’’ Dua plastik warna putih diangkat untuk ditunjukkan padaku, ‘’Buat sarapan besok pagi ya?’’
   
‘’Kau tak perlu repot-repot mem...’’
   
‘’Tidak repot, Mama,’’ ucap menantuku cepat, memotong kalimatku. ‘’Bagaimana kalau kita makan sekarang? Hawa dingin membuatku gampang lapar.’’
   
‘’Ayo.’’
   
Menantuku membuka plastik paling besar berisi dua kotak nasi beserta lauk. Lalu dua kotak berukuran agak kecil yang berisi sup dibiarkan tertutup. Kami biasa minum sup setelah selesai makan.
   
Ketika semuanya sudah siap, menantuku maju meraih remot TV dan menekan tombol merah paling atas. Beberapa detik kemudian, benda kotak besar di depan kami mengeluarkan gambar bergerak dan suara.
   
‘’Makan, Ma.’’ Menantuku menyumpit nasi setelah sebelumnya kulihat matanya terpejam dengan kepala menunduk takdzim beberapa saat. Aku tidak melakukan hal itu, karena aku tidak pergi ke gereja, dan aku orang yang setiap pagi membakar dupa.
   
‘’Hmmm... enak.’’ Aku menjejali mulutku dengan makanan.
   
‘’Restoran ini buka beberapa hari yang lalu. Kata temanku makanannya enak, makanya aku membelikan mama.’’
   
‘’Makan yang banyak. Kamu terlihat kurusan,’’ kataku.
   
Menantuku tertawa. Ia meletakkan sumpit lalu mengangkat lengan kanannya, ‘’Lihat, aku gemukan, Ma.’’
   
Aku menatap lengan itu lalu beralih ke wajahnya. Tidak, sama sekali tak terlihat ada tambahan lemak di manapun. Ia masih kurus seperti sebelum-sebelumnya. Masih sama kurusnya seperti saat pertama kali aku melihatnya masuk ke kehidupan anak pertamaku dan aku menyebutnya sebagai benalu. Ah ya aku lupa cerita, aku dulu tak merestui pernikahan anak pertamaku dengan perempuan ini.
   
Kau bertanya mengapa? Baiklah kuberitahu bagaimana ceritanya.
   
Almarhum suamiku adalah pensiunan perwira polisi. Teman-temannya polisi dan aku kenal baik dengan istri-istri mereka yang hobi mengumpulkan barang bermerk. Keluargaku termasuk kalangan atas. Aku berharap punya menantu dari kalangan sepadan. Tapi kau tahu, suatu hari anak pertamaku pulang membawa seorang gadis yang penampilannya sangat sederhana dan mengaku ibunya adalah tukang sapu jalan dan tukang bersih-bersih taman. Oh tidak, hari itu aku merasa petir hendak menyambarku.
   
Aku meminta anakku berhenti berhubungan dengan gadis itu. Bukannya menurut, ia malah menikahi gadis itu meski aku tak memberinya restu. Aku marah besar dan tak pernah mau melihatnya lagi.
   
Aku tak terlalu bersedih ketika anak pertamaku pergi dan tak pernah menghubungiku lagi. Masih ada dua anak laki-laki yang menyayangiku. Dari mereka aku berharap memiliki menantu seperti yang kuharapkan. Ketika kedua anakku mengenalkan gadis-gadis yang mereka bawa pulang, aku langsung menyukainya. Pakaian gadis-gadis itu tampak modis, mereka pandai bicara, pandai membawa diri dan yang pasti berasal dari keluarga kaya.
   
Pada akhirnya aku tinggal dengan anak dan menantuku yang terakhir. Sudah lama aku memikirkan hal itu, makanya aku paling menyayangi mereka. Dengan berbuat baik, aku berharap mereka juga baik dan menyayangiku.
 
Awal mulanya aku mendapat balasan yang kuharapkan. Tapi lambat laun sikap menantuku berubah. Jika pulang kerja dan kami hanya berdua, ia tak pernah membalas sapaanku. Jika aku menanyainya sesuatu atau mengajak bicara, ia langsung masuk kamar dan tentu dengan membanting pintu terlebih dahulu.
 
Sikap menantuku semakin hari semakin buruk. Bahkan terang-terangan menunjukkan sikap kasarnya padaku di depan anakku. Tak ada yang bisa dilakukan anakku selain memintaku bersabar karena ia sangat mencintai istrinya. Karena tak betah dan tak ingin mengalami sakit hati setiap hari, akhirnya kuputuskan tinggal di rumah anakku yang kedua. Sungguh menyedihkan, aku pergi dari rumahku sendiri.
   
Ibarat keluar dari mulut buaya lalu masuk ke mulut harimau, aku mendapat perlakuan yang hampir serupa dari menantuku di rumah anak keduaku. Ia tak menyukai kehadiranku di rumahnya. Ia tak suka melihat suaminya memberi makan dan tidur gratis pada ibu yang membesarkannya. Anakku membelaku. Namun suatu kali di tengah malam, mereka bertengkar hebat sampai-sampai menantuku melemparkan kasur busa dan selimut tipis keluar. Aku terpaksa tidur di depan pintu karena sebelum itu menantuku meminta anakku memilih aku atau istrinya dan anak mereka. Kau tahu kan siapa yang akhirnya dipilih anakku?
   
‘’Ma…. Makanannya tidak enak?’’
   
Suara menantuku membuatku tergeragap.
   
‘’Kenapa?’’ tanya menantuku khawatir.
   
‘’Aku teringat masa lalu. Tiap mengingat itu, aku selalu merasa buruk padamu dan ibumu.’’
   
‘’Semuanya sudah lewat, Ma. Tak perlu mengingat yang tidak menyenangkan.’’
   
‘’Tapi tetap saja, aku selalu merasa jahat padamu.’’
   
‘’Semua orang pernah melakukan kesalahan, Ma. Tapi sekarang semua baik-baik saja kan?’’
   
Mataku menghangat seperti hangatnya tanganku sebab genggaman kedua tangan menantuku. (*)

_

Sanpouh: menantu
Jai: anak lelaki

_

Yesi Armand Sha
HK, 9 Juli 2020

4/18/2020

Kopi dalam Cangkir Ungu


foto pinterest


Kopi dalam cangkir ungu dan sepiring besar nasi goreng udang telah aku siapkan di meja makan. Aku juga sudah menyuruh mas Yas keluar dari kamarnya agar segera menandaskan sarapan kegemarannya itu sebelum dingin. Saat mengetuk pintu tadi, tak ada sahutan dari dalam. Lima menit menunggu tak ada suara langkah mendekati pintu, aku memutuskan kembali ke kamar tidur. Hanya ingin kujelaskan, sejak Gilang liburan di rumah Emma, kami tidur beda kamar. Aku menempati kamar kami, sedang Mas Yas tidur di kamar tamu.
 
Suara hujan di luar mengiringi tanganku memasukkan baju ke dalam koper besar berwarna ungu yang semalam kusiapkan. Pagi ini menjadi hari berpisah bagi kami. Tak ada alasan lagi untuk tinggal. Semua telah ditentukan sejak dua belas tahun lalu. Aku ingat bagaimana awal mula perpisahan ini dimulai.
 
Malam itu hujan deras di bulan Januari...
 
‘’Maafkan aku Aluna. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.’’
 
‘’Kenapa?’’ Aku kaget sebab kukira rumah tangga kami baik-baik saja.
 
Mas Yas mengeluarkan selembar kertas yang telah dibubuhi tanda tangannya.
 
‘’Cerai?’’ Ada sesak yang tiba-tiba mengembang di dalam dada.
 
‘’Apakah selama ini Luna belum bisa menjadi istri yang baik?’’ Suaraku bergetar.
 
‘’Kamu sudah sangat baik, Luna. Justru aku yang tak pantas menerima kebaikan itu.’’
 
‘’Bukankah sudah semestinya sepasang suami istri saling berbagi kebaikan?’’
 
Aku lupa. Seharusnya saat itu aku sadar jika Mas Yas tak pernah menganggap aku sebagai wanitanya. Pernikahan kami tak didasari oleh cinta. Kebaikan-kebaikan Mas Yas tak lain  karena aku telah melahirkan  dan merawat Gilang, darah dagingnya.
 
‘’Viona mencariku.’’
 
Mendengar nama yang tak asing itu,  reflek membuatku mundur beberapa langkah. Tanpa sadar selembar surat yang berada di tangan kujatuhkan. Aku kehilangan kata-kata. Mendadak seluruh persendianku terasa ngilu.
                                                                           
**
 
Mungkin inilah yang dinamakan hidup tapi tak merasa hidup. Selama dua belas tahun aku seolah menjadi penghuni tetap sebuah ruangan di dalam penjara. Bukan fisikku yang dikurung dalam sel besi berhawa dingin itu, melainkan hati dan batinku yang dikungkung oleh rasa bersalah. Dan aku sepenuhnya sadar, mungkin itu yang dinamakan karma karena telah membalas kebaikan-kebaikan Aluna dengan air tuba.
 
Dinding pertahananku kala itu sudah tak mampu berdiri dengan kokoh. Dan akhirnya aku menuruti apa kata Viona. Aku mengatakan kejujuran pada Aluna karena bagaimanapun juga menyembunyikan hal itu lebih lama hanya akan membuat ia semakin tersakiti.
 
Raut Aluna pias karena melihat surat yang kubawa. Lalu wajah itu berubah pasi ketika aku menyebut nama Viona. Saat itu jika saja tanganku tak reflek menangkap kertas yang dipegangnya, sudah pasti surat cerai itu jatuh ke dalam panci berisi gulai kambing kesukaanku yang dimasakknya sebagai menu makan malam kami.
 
Tak pernah sebelumnya terbayangkan di benakku jika pembicaraan yang tak selesai malam itu menyisakan perih di hati Aluna. Berhari-hari perempuan berwajah panjang dengan hidung mungil itu lebih banyak diam. Tak terlihat lagi wajah riangnya seperti biasa yang membuat ramai rumah kami. Setelah mengurus Gilang, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan memandangi jendela kaca yang menghadap ke kebun bunga mawar di depan rumah kami.
 
‘’Apakah Mas sudah memikirkannya dengan matang ?’’ Di hari ketujuh Aluna membuka suara.
 
Aku menoleh. Pandangan kami bertaut. Sejenak aku bisa melihat wajahnya serupa mawar layu yang  disirami hujan deras siang dan malam selama bulan Januari itu.
 
‘’Ya,’’ jawabku lirih.
 
‘’Tidak bisakah mencari jalan keluar selain perpisahan?’’
 
Aku menarik napas panjang. Mulutku seakan terkunci. Hanya suara TV di depan kami yang seolah-olah menjawab pertanyaan Aluna.
 
‘’Apakah tidak ada jalan lain selain perpisahan?’ Aluna mengulang pertanyaan.
 
‘’Jujur sudah lama sekali aku memikirkan ini, dan berpisah hanya satu-satunya jalan.’’
 
‘’Gilang masih terlalu kecil.  Ia masih membutuhkan sosok seorang ayah. Tolong tunggulah sampai ia besar. Setidaknya sampai lulus SMP.’’ Dalam hitungan detik kulihat mata besarnya yang telah berubah sipit kembali menjatuhkan butiran-butiran bening.
 
Melihat Aluna tergugu, aku jadi teringat ibu yang menangis, memohon agar gugatan cerai yang telah bapak ajukan ke pengadilan agama dicabut.
                                                                         
**
 
Aku sering mendengar tentang Viona dari cerita-cerita ibu mertua. Mungkin membiarkan Mas Yas pergi ke sisi perempuan itu akan membuatnya bahagia. Tapi aku tak bisa melakukannya. Aku bahkan juga tak peduli dengan kata-kata Emma yang menganggap aku sebagai perempuan bodoh.

‘’Mbak ini kok rela banget menanggung beban batin. Sudah jelas-jelas dia tak mencintai Mbak, kenapa masih mengharapkannya?’’ Emma geregetan ketika suatu hari aku ngobrol dengannya.
 
‘’Kadang cinta bukan melulu tentang hal yang bahagia. Tapi cinta juga tentang pengorbanan, ketulusan dan keikhlasan,’’ Aku menghela napas sejenak,’’Aku selalu berdoa agar Tuhan menurunkan keajaiban.’’
 
‘’Keajaiban?’’ Emma tertawa hambar,’’Mbak, diluar sana masih ada Mas Adam, Mas Ridho dan Mas Arif yang menunggu Mbak. Mereka lebih baik dari Mas Yas. Mbak berhak bahagia dengan salah satu dari mereka. Untuk apa mempertahankan pernikahan yang sudah pasti akan berakhir?’’
 
Entah sudah berapa puluh kali kalimat serupa mengalir dari mulut Emma. Kadang aku sampai kasihan melihat adik yang menjadi satu-satunya tempatku cerita itu marah-marah karena nasehatnya tak pernah kupakai. Aku maklum dengan kemarahannya. Sebagai sesama wanita, aku yakin dia juga ingin melihat aku bahagia, dicintai lelakiku.

‘’Aku pikir menuruti cemburu dan sakit hati lalu memilih berpisah bukan keputusan yang dewasa. Tiga atau empat tahun setelah cerai mungkin akan menyembuhkan lukaku, tapi bagaimana dengan luka Gilang? Aku tahu orang dewasa berhak menentukan pilihannya sendiri, tapi perceraian bukan semata-mata urusan dua orang dewasa. Kukira tidak adil jika anak yang tak bersalah harus menjadi korbannya. Aku tidak ingin ada anak yang menangis karena perpisahan orangtuanya.’’
 
‘’Tapi pernikahan itu sudah pasti akan berakhir. Bukankah sekarang atau nanti akan sama saja?’’
 
‘’Walau bagaimanapun aku berharap perpisahan tak pernah ada. Jikalaupun terjadi, kurasa Gilang  pelan-pelan akan mengerti. Waktu akan membawanya menjadi dewasa.’’
                                                                       
**
 
Nasi goreng udang di atas piring putih besar sudah dingin. Kopi yang aromanya telah hilang pun tak membangkitkan selera. Entah kenapa sejak kemarin aku tak memiliki nafsu makan. Apapun yang kumasukkan ke dalam mulut rasanya hambar.
 
Jemariku memainkan pegangan cangkir. Aku yakin sejak hari pertama hingga saat ini Aluna tak pernah tahu asal muasal cangkir ungu yang tiap pagi ia gunakan untuk menyeduh kopi buatku. Cangkir bermotif bunga besar-besar itu pilihan Viona yang dibelinya berpasangan dengan milikku. Kata Viona, warna ungu memiliki filosofi yang sangat dalam. Orang yang menyukai warna ungu artinya tidak pernah ragu-ragu menghadapi masa depan.
 
‘’Anak laki-laki harus kuat.’’ Kata Viona ketika kami pertama kali bertemu.
 
‘’Kesedihan itu tak pernah ada. Manusia sendirilah yang menciptakannya. Memilih gelisah, bersedih hingga membuat segala sesuatu yang harusnya mudah menjadi runyam.’’
 
Aku takjub dengan perkataan-perkataan Viona yang seperti orang dewasa. Perlahan aku mulai belajar berpikir sepertinya, membuang kesedihan dan menciptakan hari-hari bahagia. Viona yang ceria, tangguh dan pantang menangis  laksana obat mujarab yang menyembuhkan lukaku pasca perceraian ibu dan bapak. Viona selalu ada. Ia menghibur, tersenyum dan membuat hariku selalu hangat.
 
Viona bagai malaikat. Ia tak memiliki cacat. Bahkan setelah membuat hatiku hancur berkeping-keping lantaran suatu hari ia pergi dengan laki-laki yang baru dikenalnya.
 
‘’Melihatnya seperti melihat diriku dalam sosok lain. Maafkan aku Yas. Kukira diakhiri sekarang lebih baik daripada nanti akan membuat kita sama-sama tersakiti.’’

Viona meninggalkan aku dan rencana-rencana yang telah kami susun untuk menikah. Lalu setelah bertahun-tahun pergi, ia kembali saat aku sudah menikah dengan  Aluna dan kami dikaruniai Gilang. Viona mencariku. Ia menangis dan aku tak tega melihat air mata orang yang sangat kukasihi itu jatuh.
 
Tiiiiin Tiiinn...!!
 
Suara taksi yang berhenti di depan rumah membuyarkan lamunanku. Tak berapa lama Aluna keluar kamar membawa kopernya.
 
‘’Luna pulang, Mas.’’ Ia mendekat. Aku pasrah ketika tanganku diraih lalu ditempelkan di dahinya.
 
‘’Di  kulkas ada gulai kambing dan soto ayam, Mas hanya perlu memanasi saja nanti.’’
 
Aku tak pernah paham apa yang dipikirkan Aluna. Kenapa ia masih selalu saja bersikap baik. Selama dua belas tahun belum sekalipun aku melihat ia bermuka masam. Selama dua belas tahun itu Aluna selalu merawat rumah dengan baik. Menghangatkan meja makan kami dengan masakannya yang enak. Menyiapkan baju bersih untukku, dan setiap pagi mengantarkan aku menuju pintu, lantas menempelkan punggung tanganku di dahinya. Aluna selalu melepas aku berangkat kerja dengan senyum lembut yang terbingkai dari wajahnya yang ramah, pun ketika aku pulang.

Kebaikan-kebaikannya yang tak pernah berhenti membuat aku sering merasa bersalah. Seharusnya seperti pagi ini, ia bisa saja meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan dan tak usah memikirkan aku makan apa. Aluna bahkan berhak marah atas semua sikap pengecut yang telah kulakukan padanya.
 
‘’Nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan telpon Luna.’’
 
‘’Luna.’’
 
Ia berhenti. Menoleh.
 
‘’Jika saja kamu lebih dulu hadir dalah hidupku, pasti aku akan mencintaimu selamanya. Maafkan aku.’’ Tiba-tiba kalimat yang telah lama menghuni lubuk hatiku keluar begitu saja.
 
‘’Tidak ada yang salah Mas. Cinta memang tidak bisa dipaksa, tapi berada di sisi Mas seperti selama ini sudah cukup membuat Luna bahagia. Belum pernah sekalipun Luna merasakan kebahagiaan semacam ini,’’ Aluna berhenti sejenak,’’Juga terimakasih karena Mas sudah bersedia mengabulkan permohonan Luna untuk menundanya sampai hari ini. Andai perpisahan itu terjadi dua belas tahun lalu, Luna pasti tak bisa memafkan diri Luna sendiri jika dikemudian hari Gilang depresi atau terjadi sesuatu dengannya.’’ Perkataan Aluna seolah membawa ingatanku terbang kembali ke masa kecil.
 
‘’Tapi bagaimana kita harus menjelaskan pada Gilang tentang hari ini?’’
 
‘’Gilang sudah besar, dia akan mengerti. Luna pulang, Mas.’’ Aluna melangkah menjauh, meyisakan suara roda kopernya yang beradu dengan lantai. Semakin jauh, suara itu terdengar semakin keras menyusup ke dalam lubang telingaku, lalu menjalar ke seluruh syaraf-syaraf di kepalaku dan berhenti tepat di dada.
 
Aku masih bergumul dengan rasa yang tak kuketahui apa namanya itu. Rasa sedih dan kehilangan seolah bercampur menjadi satu lantas berputar-putar di atas kepalaku. Aku bingung, entah apa yang harus kuperbuat dan pada akhirnya yang kulihat hanya hujan yang menyambut Aluna begitu ia keluar dari pagar. Lalu sopir taksi turun membantunya membawakan koper dan menaruh di bagasi belakang. Tak berapa lama terdengar suara pintu mobil ditutup disusul  deru kendaraan itu.
 
                                                                         
**
 
‘’Luna... Luna...’’
 
Taksi yang dinaiki Aluna sudah sampai di belokan kompleks perumahan kami. Aku berlari menembus hujan mengejar mobil biru muda itu. Napasku tersenggal-senggal. Entah Aluna yang menoleh ke belakang atau sopir itu yang melihatku berlari dari kaca spion, yang jelas mobil itu bergerak memelan lantas berhenti di pinggir jalan.
 
‘’Mas Yas.’’ Aluna turun dari mobil. Melebarkan payung. Rautnya menyiratkan tanya.
 
Aku menarik tubuh Aluna ke pelukanku.  Aku baru sadar itu adalah pelukan pertama kami setelah entah berapa tahun kami tak melakukannya. Perihku semakin menjalari hati saat aku menyadari tubuh Aluna semakin kurus. Baju kebesaran yang dikenakannya hanya membalut tulang belulang. Pipinya tyrus dengan mata yang cekung. 
 
‘’Maafkan aku Luna. Maafkan.’’ Mataku memanas. Sesenggukan aku di pundaknya.
 
‘’Mas kenapa?’’
 
Aluna masih bingung melihat tingkahku. Ia tidak tahu jika kopi buatannya telah  kutuang ke dalam wastafel dan cangkir ungu sudah kubuang ke dalam tempat sampah. Kisah lalu memang manis untuk diulang, tapi aku percaya jika Tuhan selalu menghadirkan orang yang tepat untuk berada di sisi kita. Dan, perempun setia dan  berhati lembut itulah yang Tuhan kirimkan untukku. Aluna, hatiku mantap memilihnya.(*)


_


Cerpen ini pernah diikutkan dalam lomba penerbit young creative publishing dan beruntung menjadi juara 3.



*Yesi Armand Sha
HK, 19 April 2020.

4/15/2020

Sebuah Catatan Kepergian






Pagi tadi ketika hendak sholat subuh, saya menyalakan ponsel dan mendapat dua pesan masuk di WA. Pesan yang tak ingin saya dengar.

Mbak, Mak Ni ganok. Pesan dari Adik.

Mak Ni ganok umur, Nduk. Pesan dari mbak ipar.

Iya. Batin saya.

Setelah itu, saya meletakkan hp lalu menyingkap selimut hendak bangun.
Tapi gerakan saya terhenti. Saya kembali meraih ponsel lalu membaca ulang dua kali dua pesan itu secara bergantian. Untuk beberapa saat kemudian saya terdiam sambil terus memandangi pesan itu. Tapi tatapan saya hampa, pikiran kosong, dunia seakan terhenti tapi saya tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Mak Ni meninggal? Saya memulai percakapan dengan diri sendiri.

Apa maksudnya? 

Mak Ni meninggal.

Iya aku tahu. 

Mak Ni meninggal. 

Iyaa

Kamu tidak akan bertemu dengannya lagi.

Sketsa wajah Mak Ni yang saya tangkap beberapa tahun lalu berkelebat dalam ingatan. Saya lalu tergugu di atas ranjang.

Sebenarnya hampir tiga mingguan ini Mak Ni sakit. Sudah keluar masuk ke rumah sakit. Katanya ada cairan di dalam Rahim dan kista kecil tapi tidak menyebar. Tapi pada diagnosa terakhir dari rumah sakit di kota mengatakan kalau Mak Ni menderita kanker. Stadium awal dan senin ini mulai di terapi.

Saya cukup ngeri ketika mendengar kata ‘’kanker’’. Tapi dengan ikhtiyar kemo dibarengi minum obat, muncul harapan semoga kondisi Mak Ni membaik dan sehat kembali. Tadi malam saya melangitkan doa itu, tapi bagaimanapun juga, manusia selalu tak berdaya ketika berharapan dengan takdir-Nya.

Mak Ni adalah orang yang cukup keras tapi juga penyayang. Saat SMP dulu saya suka tidur di sana. Alasannya, jarak sekolah dan rumah Mak Ni sedikit lebih dekat daripada rumah orangtua saya. Di rumah Mak Ni sudah ada televisi-meski hitam putih, dan saya selalu mendapat uang jajan lebih banyak dari uang jajan yang diberikan oleh emak.

Mak Ni juga seorang yang pekerja keras. Saya masih ingat betul, dulu setiap habis subuh Mak Ni berangkat ke pasar menggendong rinjing berisi ayam-ayam dagangannya untuk dijual. Jika musimnya di sawah, Mak Ni juga lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dari kebanyakan orang lainnya. Itulah kenapa pekerjaan di sawah Mak Ni selesai lebih cepat dari yang lainnya.

Beberapa tahun lalu Mak Ni jatuh. Tulang punggungnya mengalami masalah. Usianya memang sudah hampir mendekati tujuh puluhan, dan sejak peristiwa jatuh itu Mak Ni menjadi sering sakit lebih dari biasanya.

Selama di Hong Kong ini saya mengalami dua kali kehilangan. Nenek meninggal ketika awal-awal saya berada di Hong Kong. Tidak banyak ingatan tentang nenek, selain saya adalah cucunya yang paling di sayang, paling sering diberi uang, selalu memotong kuku dan membersihkan telinganya dan juga selalu menemaninya tidur.

Berkali-kali saya berdoa dan berharap agar diberikan mimpi bertemu nenek, tapi Gusti Allah sepertinya belum berkenan mengabulkan.Tapi meski begitu, saya cukup bersyukur karena ada beberapa foto nenek yang tidak begitu jelas tersimpan di memori ponsel. Ketika memandangi foto nenek, setidaknya saya bisa sedikit merasakan kehadirannya.

Nenek dan Mak Ni adalah dua orang yang saya sayangi. Kepergian Nenek dan Mak Ni terasa berat dan sangat menyedihkan. Kepergian selalu menyisakan perih di hati orang-orang yang ditinggalkan. Dan kesedihan seperti ini hanya mereka yang pernah mengalaminya saja yang tahu bagaimana rasanya.

Hari ini saya melakukan pekerjaan seperti biasa. Sejak pagi menemani nenek yang saya jaga untuk jalan-jalan dan olahraga. Di luar, kami berpapasan dengan banyak orang, juga bertemu dengan orang-orang yang melakukan aktifitas serupa. Tangis sejak masih di rumah membuat mata saya bengkak. Beruntung ada masker dan jilbab, jadi bengkat di mata saya tertutupi.

Pertahanan yang saya buat untuk tidak menangis ketika berada di luar, roboh saat mulai memasuki rumah. Saat memasak, menyapu, di dalam toilet, air mata saya kembali berleleran ketika mengingat Mak Ni. Menjadi lebih menyedihkan ketika saya membayangkan jika pulang nanti semuanya akan menjadi tak sama.

Nek, Mak Ni, kepergian njenengan diiringi oleh banyak linangan air mata. Tapi juga teriring doa agar diterima di sisi-Nya, diampuni dosa-dosanya dan dan bermacam-macam doa untuk kebahagiaan njengan berdua di alam sana. Semoga nanti kita semua berkumpul lagi, di tempat yang baik dan membahagiakan yang diridhoi-Nya.

-

Mak Ni adalah kakak dan satu-satunya saudara emak.



_

Kehilangan…

Kepergian…

Aku ingin mencintai lebih banyak

Aku ingin menyayangi lebih banyak

Karena waktu sangatlah berharga



*Dalam Duka
16 April 2020.










3/29/2020

Tentang Seorang yang Penakut



"Aku orangnya jereh.''

Katamu, suatu hari pernah ada perempuan gila yang bernyanyi di depan pagar rumahmu dari siang sampai sore. Kamu yang waktu itu masih SD, hanya berani mengamati dari balik dinding gedhek rumahmu sambil memegangi rok terusan yang warnanya sudah pudar. Kamu terus-terusan melihatnya, tapi tak berani meminta orangtuamu untuk menyuruh perempuan itu pergi. Antara penasaran dan ketakutan, walhasil membuatmu demam tinggi dan meracau tak jelas di malam harinya. Kamu sakit sampai beberapa hari setelahnya.

''Tapi aku lebih takut hantu,'' katamu lagi.

Kamu memang tak suka menonton film horor. Jangankan menonton, kalau kebetulan mendengar cerita tentang hantu saja, malam harinya kamu akan sulit tidur karena terbayang-bayang sesosok wanita berbaju putih dengan rambut terurai berdiri di belakangmu, atau sepotong tangan yang tiba-tiba muncul dari kolong ranjang.

''Aku pernah curhat tentang ketakutanku ini pada orang-orang alim, maksudku tahu banyak tentang agama.''

''Bagus, berarti kamu tidak takut lagi?''

Kamu menggeleng sambil tersenyum pendek.

''Bagaimana?'' tanyaku tak sabar.

''Jawabannya beragam. Katanya, hal-hal seperti itu bukan hanya malam saja, siang pun juga ada. Jadi tak perlu takut. Kalau itu, aku pun juga tahu, masalahnya aku masih juga mersa takut."

Aku diam, menunggu kalimatmu selanjutnya.

''Ada juga yang mengatakan itu karena aku kurang iman. Iya, imanku memang kurang, karena itulah aku bertanya dan berharap mendapat sesuatu yang lebih mencerahkan.'' Suaramu terdengar lesu.

Aku mengangguk-anggukan kepala karena teringat bahwa seseorang yang ditanyai, harus bisa memahami kondisi si penanya dulu sebelum memberikan jawaban. Aku memang bukan orang yang kau tanyai, dan aku juga tak layak memberikan jawaban, karena kita sama-sama bodohnya dalam hal agama, tapi... aku hanya mencoba untuk memahamimu.

''Dan ada lagi...'' Kamu tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigimu yang tidak rata.

''Hmm?'' tanyaku.

''Ini jawaban dari seorang Bunyai yang kuanggap seperti kakak.''

''Bagaimana?''

''Beliau justru bercerita bahwa pernah diweruhi orang memakai gamis warna putih lewat saat beliau sedang nderes Al-Qur'an. Kan lucu, ketika aku berharap ketakutanku hilang, justru diceritani tentang hal menakutkan yang lain. Tapi meski begitu, beliau mau mendengarkanku dan aku cukup terhibur setelah bercerita padanya.'' Kamu tertawa lagi, dan aku tak bisa menahan untuk tak ikut tertawa. Tawamu memang menular.

''Aku memang masih jereh, tapi sekarang sudah mendingan.''

''Bagaimana caramu mengatasinya?''

Kamu tertawa lagi, tapi pembawaanmu kali ini lebih terlihat santai dan bahagia.

''Jangan tertawa terus, cepat cerita.'' Tukasku semakin tak sabar.

''Aku mendengar ceramah Gus Baha. Hantu dan genderuwo itu juga makhluknya Allah. Itu makhluk, sama kayak kita makhluk, jadi nggak perlu ditakutin. Beliau juga ngendikan sambil guyon. Katanya, kalau diweruhi, malah suruh nyapa dan menanyakan kabarnya. Kan lucu sekali. Meskipun tidak takut, tapi aku tidak tertarik agar diweruhi dan tak tertarik untuk mengajaknya bercakap-cakap. Entah kalau kamu. Mau mencobanya, kalau berhasil nanti ceritakan padaku?''

''Tidak! Tidak!'' Aku bergidik ngeri, tapi juga lega mendengar kemajuan pada dirimu. Jangan pernah takut apa-apa lagi selain kepada Allah. Tak ada hal lain yang boleh kamu takutkan selain Dia. Please be brave, dear. (*)


*Sudut Sunyi
HK, Maret 2020.

Kita diantara Kepulan Asap Kopi


''Bagimu mungkin ini hal biasa, tapi tidak buatku yang tak pernah bisa minum kopi.” 

Kedua tanganmu lalu meraih kedua sisi cangkir, menariknya agar lebih dekat. Matamu lalu terpejam, seiring satu tarikan napas panjang, punggungmu tampak tertarik ke atas, lebih tegak. “Ini perkembangan bagus.” 

Aku menyesap kopi tapi mataku tak lepas darimu, “Tubuhmu sudah tidak gemetar?” 

Hidungmu masih menangkap kepulan asap kopi yang keluar dari cangkir itu. “Lumayan, tapi tak separah dulu." 

"Kau tahu, saat kecil dulu aku dan Kean....” 

"Tidak, bagaimana aku tahu jika kau belum menceritakannya,” tukasku cepat memotong kata-katamu dan lebih tepatnya, aku tak ingin mendengar nama laki-laki itu, “Tapi aku sama sekali tak tertarik, jadi mari kita membicarakan hal lain saja.” .

Kamu mendengus lalu tertawa pendek, “Kenapa? Cemburu?” 

Aku memalingkan wajah menghadap jalan raya, “Bisakah saat bersama, kita hanya membicarakan tentang kita berdua saja?''



*Tabik
HK, Maret 2020.
Powered by Blogger.
yesiarmand © . All Right Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.